Jumat, 13 Januari 2012

askep pneumothorak


LAPORAN PENDAHULUAN
A.    Definisi
Pneumothorax merupakan suatu kondisi dimana terdapat udara pada kavum pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara sehingga paru-paru dapat leluasa mengembang terhadap rongga dada. Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan oleh :
1.      Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumothorax jenis ini disebut sebagai closed pneumothorax. Apabila kebocoran pleura visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya, udara semakin lama semakin banyak sehingga mendorong mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension pneumothorax.
2.      Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea, maka udara cenderung lebih melewati lubang tersebut dibanding traktus respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral. Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagai open pneumothorax.
B.     Klasifikasi dan etiologi
Pneumothorax dapat terjadi secara spontan atau traumatik dan klasifikasi pneumothorax berdasarkan penyebabnya dibedakan sebagai berikut:
1.      Pneumothorax spontan
Setiap pneumothorax yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab (trauma atau iatrogenik,ada 2 jenis yaitu:
a)      Pneumothorax spontan primer(PSP)
Suatu pneumothorax yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya,umumnya pada individu sehat ,dewasa muda,tidk berhubungan dengan aktivitas fisis yang berat tapi justru terjadi pada saat istirahat dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya
b)      Pneumothorax spontan sekunder(PSS)
Suatu pneumothorax yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya(tuberkolosisparu,PPOK,asmabronkial,pneumonia,tumor paru,dan sebagainya)pasien  PPS bilatteral dengan reseksi torakoskopi dijumpai adanya metastasis paru yang primernya berasal dari sarkoma jaringan lunak diparu
2.      Pneumothorax traumatik
Pneumothorax yang terjadi akibat suatu penetresi kedalam rongga  pleura karena luka tusuk atau luka tembak atau tusukan jarum.pneumothorax traumatik juga ada 2 jenis yaitu:
a)      Pneumothorax traumatik bukan iatrogenik
Pneumothorax yang terjadi karena jejas kecelakan ,misalnya jejas dinding dada terbuka/tertutup,barotrauma.
b)      Pneumotorax traumatik iatrogenik
Pneumotorax yang terjadi akibat tindakan oleh tenaga medis. Pneumotorax ini di bedakan menjadi dua yaitu :
*      Pneumotorax traumatik iatrogenik aksidental
Pneumotorax yang terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan/komplikasi tindakan tersebut, misalnya pada tindakan parasentesis dada, biopsi pleural,biopsi transbronkial, biopsi/aspirasi paru perkutaneus, kanulasi vena sentral, barotrauma(mechanical ventilition).
*      Pneumotorax traumatik iatrogenik artifisial (deliberate)
Pneumotorax yang sengaja dikerjakan dengan cara mengisi udara kedalam rongga pleura melalui jarum dengan suatu alat maxwell box. Biasanya untuk terapi tuberkulosis (sebelum era antibiotik), atau untuk menilai permukaan paru.
C.     PATOFISIOLOGI
Pneumothorax mengenai rongga toraks sampai rongga pleura, udara bisa masuk (pneumothorax)Terjadi robekan Pembuluh Darah intercostal, pembuluh darah jaringan paru-paru.Karena tekanan negative intrapleura,Maka udara luar akan terhisap masuk kerongga pleura (sucking wound).Terjadi perdarahan (perdarahan jaringan intersititium, perarahan intraalveolar diikuti kolaps kapiler kecil-kecil dan atelektasi).Tahanan perifer pembuluh paru naik (aliran darah turun)
Oper penumothorax, Close pneumotoraks, Tension pneumotoraks, Ringan kurang 300 cc ---- di punksi ,Sedang 300 - 800 cc ------ di pasang drain
Berat lebih 800 cc ------ torakotomi Tekanan Pleura meningkat terus
Mendesak paru-paru (kompresi dan dekompresi) menyebabkan pertukaran gas berkurang, Sesak napas yang progresif (sukar bernapas/bernapas berat)Bising napas berkurang/hilang Bunyi napas sonor/hipersonor.Foto toraks gambaran udara lebih 1/4 dari rongga torak.Sesak napas yang progresif Nyeri bernapas / pernafsan asimetris / adanya jejas atau traumaNyeri bernapas Pekak dengan batas jelas/tak jelas.Bising napas tak terdengar  Nadi cepat/lemah Anemis / pucat Poto toraks 15 - 35 % tertutup bayangan WSD/Bullow Drainage Terdapat luka pada WSD.
Nyeri pada luka bila untuk bergerak Ketidak efektifan pola pernapasan
Inefektif bersihan jalan napas Kerusakan integritas kulit Resiko terhadap infeksi
- Perubahan kenyamanan : Nyeri perawatan WSD harus diperhatikan. Gangguan mobilitas fisik Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan Pergeseran mediatinum

D.    KOMPLIKASI
Pneumotoraks tension (trjadi pada 3-5% pasien pneumotoraks), dapat mengakibatkan kegaglan respirasi akut. Pio-pneuomotoraks, hiro-pneumotoraks/hemo-pneumotoraks, henti jantung paru dan kematian (sangat jarang terjadi); pneumumodiastinum dan emisefima subkutan sebagai akibat komplikasi pneumothorax spontan ,biasanya karena pecahnya esofagus atau bronkus ,sehingga kelainan tersebut hjarus ditegakkan (insidensinya sekitar 1%),pneumothorax simultan bilateral ,insidensinya sekitar 2% ,pneumothorax kronik ,bila tetap ada selama waktu lebih dari 3 bulan ,insidensinya sekitar 5 %.
E.     PENATALAKSANAAN
Tindakan pengobatan pneumothorax tergantung beratnya ,jika pasien dengan pneumothorax ukuranya kecil dan stabil ,biasanya hanya diobservasi dalam beberapa minggu dengan foto dada serial tanpa harus dirawat inap dirumah sakit.pada prinsipnya diupayakan pengembangan paru sesegera mungkin antara lain dengan pemasangan water sealed drainase (WSD) .pasien peneumothorax dengan klinis tidak sesak dan luas pneumothorax <15% cukup dilakukan observasi .namun demikian bila didapatkan penyakit paru yang mendasari perlu dipasang WSD .apabila ada batuk dan nyeri dada setiap 12-24 jam selama 2 hari.pneumothorax ukuran kecil umumnya secara spontan akan diresopsi meskipun kemungkinan terjadinya progesivitas tetap diperhatikan.laju penyerapan diperkirakan 1,25% dari sisi pneumothorax per hari.sakit dadanya mulai menghilang dalam 24 jam .pasien dengan luas pneumothorax kecil unoilateral dan stabil ,tanpa gejala diperbolehkan berobat jalan dan dalam 2-3 hari pasien harus kontrol lagi.tindakan dekompresi yaitu membuat hubungan rongga pleura dengan udara luar ,ada beberapa cara
Ø  Masukkan jarum melalui dinding dada sampai rongga pleura ,sehingga tekanan udara positif akan keluar melalui jarum tersebut
Ø  Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil ,yaitu dengan:
*      Jarum infus set ditusukkan kedinding dada sampai masuk rongga pleura ,kemudian pipa plastik atau slang dipangkal sario gan tetesan dipotong dan dimasukkan kedalam botol berisi air dan klem dibuka akan timbul gelembung-gelembung udara dalam botol
*      Abbocth :jarum abocath  no.14 dimasukkan keerongga pleura dan setelah mandrin dicabut ,dihubungkan dengan pipa infus set ,selanjutnya dikerjakan
*      WSD:pipa khusus (chateter urin )yang steril dimasukkan kerongga klem penjepit bedah.sebelum tongkar yang dimasukkan kerongga pleura ,terlebih dahulu kulit dada tempat trongkar akan dimasukkan didesinfektan.ditutup doek penutup dan diberikan anestesi lokal dengan xilokaain atau prokain,2% secukupnya.lokasi insisi kulit dapat diruang antariga II digaris midclavicula.kemudian trokar baru dimasukkan .setelah trokar masuk rongga pleura ,busi penusuuk dicabut dan tinggal selontongan pipa.drain dimasukan melalui selontongan tersebut.pemasukan drain diarahkaan keataas VI .bila masuknya melalui ruang antar iga II drain diarahkan kebawaah.pipa  khusus atau  kateter tersebut kemudian duntuk tekanan rongga pleura yang masih tetap positif ,perlu continous suction ihubungkan dengan pipa kaca yang dimasukan kedalam air didalam botol .masuknya pipa kaca kedalam air  ,sebaiknya 2 cm dari permukaaan air ,supaya gelembung udara mudah keluar . untuk tekanan rongga pleura yang masih tetap positif ,perlu continous suction yang penghisapannya diberikan interkostal besartekanan -10 cm sampai 20 cmair.tujuanya supaya paru cepat mengembang .apabila paru sudah mengembang penuh dan tekanan rongga pleuura sudah negatif ,Maka sebelum dicabut dilakukan uji coba dengan menjepit pipa drain selama 24 jam.kemudian dicek dengan foto dada ,apakah paru tidak mengempes lagi atau tekanan rongga pleura menjadi positif lagi.apabila tekanan menjadi positif lagi maka drain belum dapat dicabut
Menurut asril penatalaksanaan pneumothorax spontan spontan diagi dalam :
a         PSP ,yang terjadi pada masa mudaa dan fungsi paru normal ,akaan sembuh sendiri.evaluasi selanjutnya perlu berhati-hati sampai pengembangan paru sempurna.PSP ukuran besar ,bila ada aspirasi pipa kecil tidak mengembang dalam 24-48 jam ,perlu dipasang pipa interkostal besar,dengan water sealed drainage (WSD) atau penghisapan secara perlahan –lahan melalui katup flutter(continous suction). Bila paru sudah mengembang,biarkan pipa ronmgga pleura ditempatnya dengan diklem aliranya dan dievaluasi selama 24 jam.apabila udara masih menetap dalamrongga pleura setelah 1 mi8nggu ,perlu dilakukan thorakotomi.
b        PSS:sebelum melakukan pemasangan pipa rongga pleura ,perlu diyakini lagi adanya pneumothorax pada pasien- pasien emfisema ,karena tindakan tersebut dapat berakibat fatal.pengeluaran udara biasanya secara terus menerus.sampai beberapa hari sampai bronko pleura /bronko p[pleura fistel (BPF) nya menghilang.bila gagal mengembang sempurna dapat dipassang pipa rongga pleura kedua dan bila ginjal juga mengembang setelah satu minggu ,perlu operasi torakotomi .untuk mengetahui adanya fistula bronkopleura .
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Diagnosa keperawatan
Pola pernafasan tidak efektif ,dapat dihubungkan dengan
·         Penurunan ekspansi paru
·         Gangguan muskoloskeletal
·         Nyeri atau ansietas
·         Proses inflamasi
Kemungkina dibuktikan oleh :
·         Dispnea,takipnea
·         Perubahan kedalaman atau kesamaan pernafasan
·         Perubahan otot aksesori ,pelebaran nasal
·         Gangguan pengembangan dada
·         Sianosis,GDA tak norma
Hasil yang diharapkan atau evaluasi pasien akan
            Menunjukkan pola pernafasan normal atau efektif dengan GDA dalam rentang normal .bebas sianonis,dan tanda atau gejala sianosis
B.     Tindakan atau intervensi
·         Mandiri yaitu mengidentifikasi etiologi atau pencentus,contoh kolaps,trauma,keganasan,infeksi,komplikasi ventilasi mekanik.
·         Auskultasi bunyi nafas
·         Kaji pasien adanya nyeri tekan bila batuk ,napas dalam.pertahankan posisi nyaman biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur
·         Awasi pasang surut air penampung ,catat apakah perubahan menetap atu sementara
C.     Rasional
·         Pemahaman penyebab kolaps perlu untuk pemasangan selang dada yang tepat dan memilih tindakan teraputik yang lain
·         Distres pernafasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi bsebagai akibat stres fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok sehubungan dengan hipoksia
·         Bunyi napas dapat menurun atau tak ada lobus,segmen paru,atau seluruh area paru(unilateral).area alektesis tak ada bunyi nafas,dan sebagian area kolaps menurun bunyinya
·         Botol penampung bertindak sebagai manometer intrapleuraal(ukuran tekanan intrapleural menunjukkan perbedaan tekan inspirasi dan eksirasi.pasang surut 2-6 cm selama inspirasi normal,dapat meningkat sedikit selama batuk .berlanjutnya fluktuasi pasang surut berlebihan dapat
menunjukkan obstruksibjalan nafas atu adanya pneumothorax besar
D.    EVALUASI
·         Evaluasi fungsi pernafasan ,catat kecepatan atau pernafasan serak,dipsnea,keluhan “lapar udara”.terjadinya sianosis,perubahan tanda vital
·         Evaluasi ketidaknormalan atau kontinuitas gelembung botol penampung
·         Evaluasi kebutuhan untuk memijat selang(milking)










DAFTAR PUSTAKA
1.       /2009/04/17/pneumothorax /from:http://ansharbonassifa wordpress.com accesed on september 2010
2.       /2009/05/asuhan keperawatan pada klien dengan pneumothorax.html/ from:http://teguhsubianto.blogspot.com accesed on september
3.       /2010/07/17/from:http://rastirania wordpress.com .accesed september 2010
4.      http://ansharbonassilfa.wordpress.com/2009/04/17/pneumotoraks/
5.      Price, Sylvia A dan Lorraine McCarty Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC
6.      Wikipedia. 2008. Pneumothorax. diakses dari http://en.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar